PERKEMBANGAN PERKUMPULAN WAYANG TOPENG DI KABUPATEN MALANG


Sekitar tahun 1930-an Pigeaud mencatat beberapa perkumpulan wayang topeng di Jawa, termasuk wayang topeng di daerah Malang bagian selatan; Senggreng, Jenggala,Wijiamba, dan Turen. Perkumpulan wayang topeng yang satu dengan perkumpulan yang lain masih saling berhubungan. Kontak antara perkumpulan yang satu dengan perkumpulan yang lain dikarenakan kebutuhan pengadaan topeng. Perkumpulan yang tidak mempunyai pengukir topeng selalu memesan pada seniman pengukir topeng dari daerah lain. Mengingat waktu itu tidak banyak seniman pengukir topeng. Hanya beberapa seniman yangmempunyai kemampuan mengukir topeng, seperti Yai Nata dari Dusun Slelir. Di daerah Malang bagian utara hanya ada pengukir topeng yang bernama Reni. (Supriyanto & Adipramono. 1997:7, Onghokham, 1972).

Daerah Malang bagian selatan dikenal pengukir topeng yang bernama Wiji. Pada tahun 1950-an muncul pengukir topeng bernama Kangseng dari Dusun Jabung. Sementara Karimoen dari Dusun Kedungmonggo mulai dikenal masyarakat luas sebagai pengukir topeng sejak tahun 1970-an (Murgiyanto,Sal. 1982/1983).

Kontak antara perkumpulan wayang topeng yang satu dengan wayang topeng yang lain disebabkan juga oleh kebutuhan pelatihan tari dan dalang. Seperti Samut, salah satu tokoh legendaris pemeran Gunungsari. Lelaki yang memiliki gerak-gerik yang luwes cenderung keputri-putrian banyak membina perkumpulan wayang topeng di daerah Malang bagian timur. Tahun 1940-an Samut getol membina banyak perkumpulan wayang topeng bersama dalang bernama Kek Tirtonoto (Kakek M. Soleh AP) anak dari Rusman.

Salah satu tokoh yang populer sebagai penari kasar. Rusman selain dikenal sebagai penari kasar juga sangat terampil memainkan instrument pengendang.Tokoh-tokoh tersebut bersama Kek Rakhim mengembangkan wayang topeng di Malang bagian timur hingga tahun l970-an (Wawancaradengan M. Soleh AP, tanggal 20 Agustus 2002).

Sejumlah desa di wilayah Kabupaten Malang yang memiliki perkumpulan wayang topeng adalah; Dampit, Precet, Wajak, Ngajum, Jatiguwi,

Senggreng, Pucangsanga, Jabung, dan Kedungmongo. Pada akhir tahun 1970-an, kecuali di Jabung dan Kedungmonggo, kehidupan wayang topeng di daerah-daerah lain nampak telah sangat menurun karena beberapa sebab sehingga dewasa ini para pemain dari desa-desa yang lain banyak yang kemudian bergabung dengan rombongan wayang topeng dari dua desa yang disebutkan terakhir, yaitu Jabung, Kecamatan Jabung bekas Kawedanan Tumpang dan Dusun Kedungmonggo, Desa Karangpandan, Kecamatan Pakisaji, bekas Kawedanan Kepanjen. (Murgiyanto & Munardi, 1978/1979:7-8).

Sepanjang tahun 1980-an hingga tahun 1990-an perhatian masyarakat dan juga instansi pemerintah dan swasta sangat besar. Hal ini dibuktikan adanya usaha-usaha pemasyarakatan kembali mempertunjukan wayang topeng yang ada di berbagai daerah. Kini perkumpulan yang masih dapat tampil yaitu perkumpulan Wayang Topeng Karya Bakti dari Desa Jabung, diketuai oleh Parjo; perkumpulan Wayang Topeng Sri Marga Utama dari Desa Glagahdowo, dipimpin oleh Rasimoen; perkumpulan Wayang Topeng Asmarabangun dari Desa Kedungmonggo, dan perkumpulan Wayang To-272 BAHASA DAN SENI, Tahun 33, Nomor 2, Agustus 2005 peng Candrakirana dari Desa Jambuwer pimpinan Barjo (Madya Utama wawancara , tanggal 12 Juni 2003).

Chattam AR seorang seniman wayang topeng, salah satu murid dari Karimoen dan Kangsen menceritakan perihal salah seorang tokoh wayang topeng bernama Wiji dari Dusun Kopral, Sukowilangun. Wiji merupakan salah satu tokoh yang sejajar dengan Reni dari Polowijen atau Yai Nata dari Slorok. Wiji baru diketahui ketokohannya oleh seniman-seniman tari di Malang sekitar tahun 1985. Waktu itu Wiji sudah berusia sekitar 110 tahun lebih (tahun 1985). Menurut catatan Chattam AR, ketika Wiji Masih muda seringkali pentas di pendapa Kabupaten Malang. Waktu itu yang menjadi Bupati di Malang adalah Raden Djapan, sekitar akhir abad XIX (Chattam ARwawancara, tanggal 23 Juli 2003).

Pada akhir tahun 2000 perkumpulan wayang topeng yang masih aktif pentas berasal dari dua desa yaitu (1) Perkumpulan Wayang Topeng Asmarabangun dari Dusun Kedungmonggo, Kecamatan Pakisaji, (2) Perkumpulan Wayang Topeng Sri Marga Utama dari Dusun Gelagahdowo, Kecamatan Tumpang. kabupaten malang provinsi jawa timur

source : penelitian Bpk. Robby Hidajat, dosen Jurusan Seni & Desain Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang, sastra.um.ac.id

This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s